Masyarakat Transisi



MASYARAKAT TRANSISI 
 
A. Pengertian Masyarakat Transisi
Masyarakat transisi adalah masyarakat yang mengalami perkembangan dari situasi yang awalnya tradisional dan secara berangsur-angsur sudah mulai mengalami perkembangan kehidupan baik dalam tatanan sosial maupun struktur sosial. Perubahan ini di sebabkan adanya keinginan dari setiap individu ataupun sekelompok orang yang ingin berubah dan telah mngalami perkembangan pemikiran kearah yang lebih baik. Perubahan itu bisa dilihat dari struktur sosialnya, sikap dan prilaku serta cara pandang mereka dalam menafsirkan sesuatu. Kehidupan mereka belum dikatakan modern tapi kehidupan mereka mangarah ke pada modern, bukan tidak mungkin bila suatu saat mereka mengalami kehidupan moderen. Dari segi pembangunan, masyarakat ini belum mempunyai banyak gedung-gedung mewah seperti masyarakat modern dan mal-mal tempat rekreasi belum begitu banyak, yang mengalami perubahan di bentuk bangunan pemerintahannya saja dan pada tempat umumnya hanya sebagian kecil,tapi dari pusat perdagangan masyarakat ini sudah mampu memenuhi kebutuhan pokoknya dan mampu mengadakan hubungan perdagangan dengan daerah lain untuk memasok makanan atau kebutuhan guna memenuhi kehidupan mereka.
            Setiap masyarakat mempunyai kebudayaan tersendiri, kebudayaan masyarakat transisi sudah mulai berkembang, mereka sudah berangsur-angsur meninggalkan kepercayaan yang di pegang oleh nenek moyang mereka yang menyembah sesuatu yang tidak rasional, mereka sudah mulai tidak percaya kepada mitosbahkan kebudayaan yang bersipat seni mereka lestarikan dan jika perlu mereka memperkenalakan kedaerah lain agar mereka mempunyai identitas diri. Di samping itu masyarakat ini peka dan terbuka sekali terhadap hal-hal baru.


B.  Kondisi Masyarakat Transisi Dilihat Dari Tiga Dimensi Masyarakat
1. Dimensi Struktural
            Dimensi struktural merupakan dimensi yang melihat masyarakat dari struktur atau tatanan masyarakat baik secara vertikal (pelapisan sosial/stratifikasi sosial) maupun secara horizontal (diferensiasi sosial dalam bentuk kelompok). Seperti halnya masyarakat lainnya, pada masyarakat transisi terdapat tingkatan kelas-kelas atau kelompok sosial yaitu kelas/kelompok dengan penghasilan rendah, menengah, dan tinggi. Hal ini menyebabkan kurang atau bahkan tidak ada interaksi antar kelompok tersebut, dan hanya terjadi di dalam satu kelompok saja.

2. Dimensi Kultural
            Dimensi kultural adalah dimensi yang melihat masyarakat dari kebudayaan yang menghasilkan sistem nilai dan norma yang dijadikan sebagai referensi dalam kehidupan. Kehidupan masyarakat transisi berada diantara tradisional dan modern, karakteristik masyarakat transisi bergantung pada wilayah dimana masyarakat tersebut berada.
1.      Apabila masyarakat tersebut berada di pedesaan, maka karakteristik akan terlihat jelas terutama dalam bidang-bidang berikut:
·         Pendidikan. Pendidikan formal biasanya hanya sampai tingkat smp, atau sekarang ini mungkin saja sampai SMU, pendidikan formal dianggap sebagai usaha untuk mencari kerja diluar sektor agraris. Pendidikan formal ditunjang melalui pendidikan keagamaan dan diselenggarakan di tempat-tempat peribadatan, dengan tujuan agar nilai-nilai keagamaan tidak luntur dalam kehidupan masyarakat.
·         Informasi. Informasi pembangunan yang datang pada mereka berasal dari perangkat desa, dan jarang sekali diperoleh dari media masa karena koran, tabloit, majalah, jurnal, dll sedikit sekali atau bahkan tidak pernah diantara mereka yang berlangganan.kalaupun ada waktu penerbitannya telah terlewat. Begitu pula informasi dari televisi jarang diperoleh, disamping saluran televisi yang terbatas juga acara yang mereka tonton terbatas pada hiburannya saja, sedangkan berita dan informasi lain sering diabaikan.

2.      Apabila masyarakat transisi ini berada di pinggiran kota. Masyarakat transisi yang bertempat tinggal di pinggiran kota kadangkala sikap modern tidak secara utuh berkembang dalam kehidupan mereka karena secara fisik dan budaya mereka mendapat pengaruh kota tetapi secara mental dan administrasi berada di desa. Dalam beberapa bidang kehidupan masyarakat transisi umumnya kalah bersaing dengan masyarakat kota apalagi oleh perkembangan kota sendiri yang turut menggeser kehidupan mereka.
·         Pendidikan. Beberapa orang sudah banyak yang berhasil dalam bidang pendidikan, terutama setelah mereka menamatkan tingkat sarjana. Tetapi di lain pihak banyak pula yang menjadi pedagang di kota ataupun mengemudi ojek diwilayahnya.
·         Pengaruh kota. Mereka yang berada di pinggiran kota sudah mulai meninggalkan sikap dan sifat tradisionalnya kemudian beralih menjadi masyarakat kota yang modern. Tetapi perubahan ini tidak selamanya sesuai dengan yang diinginkan terutama hal-hal yang bersifat positif seperti ciri dari masyarakat modern. Keinginan untuk menjadi masyarakat modern menjadi terlalu dipaksakan malah terjebak pada sikap weternisasi, karena kurangnya pengetahuan dari pengertian modern itu sendiri.

3.      Masyarakat transisi yang berada di perkotaan. Masyarakat kota tidak selamanya sebagai masyarakat modern, apalagi seperti Indonesia dimana kota-kotanya tumbuh dan berkembang tidak lepas dari adanya urbanisasi dan lambatnya proses adaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Berikut ini, berikut ini beberapa faktor yang menunjukan terdapatnya masyarakat transisi diperkotaan.
·         Urbanisasi. Banyaknya urbanisasi yang berasal dari pedesaan menyebabkan penduduk kota semakin banyak, apalagi tidak semua pendatang dapat menempati kedudukan yang layak diperkotaan, sehingga mereka akan kalah bersaling sehingga terpinngirkan menjadi pemulung, pengemis, gelandangan, bahkan menjadi penjahat, sedangkan yang agak beruntung akan menempati sektor informal seperti pedangan kaki lima, pedangan asongan, dll. Mereka hidup dan menjadi masyarakat perkotaan tapi banyak yang masih membawa sifat dan sikap (mentalitas) tradisonal sebagaimana dibawa dari daerah asal.
·         Mentalitas. Metalitas sebagai masyarakat transisi bagi mereka yang berada di perkotaan sebagai pendatang, tidak akan secara langsung menjadi masyarakat modern melainkan memerluhkan proses yang kecepatannya tergantung pada mereka sendiri untuk cepat berubah dan menyesuaikan diri menjadi masyarakat modern. Perubahan dari masyarakat tradisonal menjadi masyarakat modern bagi masyarakat pendatang di perkotaan, menjadi sangat lambat, apabila mereka bertempat tinggal, bergaul, dan berusaha bersama-sama dengan yang memiliki mentalitas sama.
·         Pengaruh pedesaan. Pengaruh pedesaan para pendatang di perkotaan (urbanisasi) tidak akan begitu saja meninggalkan mentalitas tradisionalnya. Pabila bersangkutan secara langsung berasal dari pedesaan, apalagi seringnya mereka pulang pergi ke pedesaan yang tradisional, maka pengaruh pedesaan akan tetap melekat dalam diri mereka. Dengan demikian, pengaruh desa tradisional dengan pengaruh kota yang modern sama-sama diterima dalam kehidupan.
Sebelum kita mengetahui bagaimana pemahaman agama masyarakat transisi, lebih dulu kita mengetahui arti dari pemahaman itu sendiri. Pemahaman berasal dari kata paham yang mempunyai arti mengerti benar, sedangkan pemahaman merupakan proses perbuatan cara memahami. Pemahaman mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari.
Menurut W.F.Wertheim 1999 “Masyarakat Indonesia Dalam Transisi” masyarakat transisi di Indonesia memperoleh pemahaman agama melalui jalur perdagangan. Agama pertama kali diperkenalkan oleh para pedagan yang berasal dari India dan tampak dalam bentuk yang ada di tanah daratan Asia.
Masyarakat transisi memperoleh pemahaman tentang agama dari berbagai kegiatan di tempat peribadatan yang ada dilingkungannya untuk menunjang pendidikan formal. Tetapi saat ini sudah banyak masyarakat transisi yang mendapatkan pemahaman agama dari media massa baik cetak maupun elektronik.
Pemahaman agama sebagian masyarakat transisi masih sangat tradisional atau disebut dengan istilah “kejawen” terutama mereka yang bertempat tinggal di desa. Beberapa dari mereka masih mempertahankan kebiasaan-kebiasaan dari nenek moyang. Namun sebagian sudah meninggalkan kebiasaan itu dan mulai memperoleh pemahaman agama yang medekati modern atau bahkan modern. Hal ini diperoleh dari pendidikan yang mulai berkembang ke tingkat yang lebih tinggi juga  konteks dengan budaya lain sehingga masyarakat mulai berpikir logis dan memilih meninggalkan kepercayaan-kepercayaan zaman nenek moyang.

3. Dimensi Prosesual
            Dimensi prosesual merupakan dimensi yang melihat dari relasi sosial/interaksi sosial antara individu dengan individu lain, antara individu dengan kelompok, maupun antara sesama kelompok. Masyarakat transisi sudah mulai pudar interaksi antar masyarakatnya. Hal ini dikarenakan mereka sudah mulai mementingkan dirinya sendiri atau disebut juga munculnya sikap keindividualan. Hal ini merupakan pengaruh kota yang mulai berkembang pada masyarakat transisi.
            Perubahan pemahaman agama masyarakat transisi mulai berkembang melalui teknologi yakni internet. Karena sebagian masyarakat transisi sudah mulai mengenal internet. Mereka bisa bisa dengan mudah mencari pemahaman agama yang lebih luas lagi.
            Pemahaman agama masyarakat transisi berangsur-angsur menjadi lebih modern. Misalnya mereka tidak percaya lagi akan mitos. Hal ini dikarenakan adanya keinginan masyarakat untuk modern, berkembangnya pendidikan, konteks atau interaksi dengan budaya lain, serta pola pikir yang berkembang lebih maju sehingga mereka lebih memilih hal yang masuk akal.
            Dalam diri masyarakat transisi terdapat suatu dorongan atau keinginan mereka untuk menjadi modern, yang berlaku juga untuk pemahaman agama sehingga pemahaman agama mereka berkembang dan ter-upgrade. Sebagian masyarakat transisi sudah memulai untuk mementingkan pendidikan seperti masyarakat kota. Dan melalui pendidikan ini juga pemahaman agama mereka terus bertambah. Interaksi dengan buda lain juga menjadi faktor yang mendorong perubahan agama masyarakat transisi. Interaksi menyebabkan mereka mendapat hal-hal baru lalu difilter untuk diterima.
            Masyarakat transisi cenderung mudah menerima hal-hal baru dikarenakan mereka dalam masa transisi atau perubahan yang mana masih mudah terpengaruh oleh hal-hal baru. Oleh karena itu, perubahan pemahaman agama masyarakat transisi terus berkembang. Dan lama-kelamaan pemahaman agama mereka menjadi modern dan jauh dari tradisional.
            Berikut ini beberapa faktor pendorong terjadinya perubahan pemahaman agama masyarakat transisi.
·         Adanya kontak dengan budaya lain. Salah satu proses yang menyangkut dalam hal ini adalah difusi. Difusi adalah suatu proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan yang dalam hal ini agama dari orang perorangan ke orang perorangan yang lain, atau dari suatu masyarakat ke masyarakat lain. Dengan difusi ini, pemahaman agama yang lebih modern masuk pada dan diterima oleh masyarakat transisi itu sendiri.
·         Adanya sistem pendidikan formal yang lebih maju. Pendidikan di sekolah mengajarkan kepada manusia bermacam-macam ilmu pengetahuan termasuk ilmu agama. Oleh karena itu pendidikan memberi suatu nilai tertentu bagi manusia dalam membuka pikirannya secara lebih rasional atau cara berpikir ilmiah. Sehingga masyarakat lebih lebih memilih hal masuk akal dan berangsur-angsur mulai meninggalkan pemahaman agama yang masih tradisonal yang dinilai tidak masuk akal.
·         Adanya keinginan untuk maju. Keinginan untuk maju yang tertanam dalam jiwa masyarakat transisi sangat berpengaruh terhadap perubahan pemahaman agama. Mereka akan terus menggali informasi dan menerapkannya agar kehidupannya bisa lebih maju seperti masyarakat kota. Dalam hal ini pengaruh kota berperan penting untuk kemajuan masyarakat transisi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hadits-Hadits yang Berkaitan dengan Bimbingan dan Konseling

Manusia sebagai Makhluk Pribadi (Individu)

Pengembangan Kepribadian Islam