Manusia sebagai Makhluk Pribadi (Individu)

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK PRIBADI (INDIVIDU)


A. Manusia Sebagai Makhluk Pribadi (Individu)
            Istilah individu berasal dari bahasa Latin, yaitu individum, yang artinya sesuatu yang tidak dapat dibagi-bagi lagi atau suatu kesatuan yang terkecil dan terbatas. Secara kodrati, manusia merupakan mahluk monodualis. Artinya selain sebagai mahluk individu, manusia berperan juga sebagai mahluk sosial. Sebagai mahluk individu, manusia merupakan mahluk ciptaan Tuhan yang terdiri atas unsur jasmani (raga) dan rohani (jiwa) yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Jiwa dan raga inilah yang membentuk individu.
Manusia juga diberi kemampuan (akal, pikiran, dan perasaan) sehingga sanggup berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas dirinya. Disadari atau tidak, setiap manusia senantiasa akan berusaha mengembangkan kemampuan pribadinya guna memenuhi hakikat individualitasnya (dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya). Hal terpenting yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya adalah bahwa manusia dilengkapi dengan akal pikiran, perasaan dan keyakinan untuk mempertinggi kualitas hidupnya. Manusia adalah ciptaan Tuhan dengan derajat paling tinggi di antara ciptaan-ciptaan yang lain.
Sebagai makhluk individu manusai berperan untuk mewujudkan hal-hal sebagai berikut :
  • Menjaga dan mempertahankan harkat dan martabatnya. 
  • Mengupayakan terpenuhinya hak-hak dasarnya sebagai manusia.
  • Merealisasikan segenap potensi diri baik sisi jasmani maupun rohani. 
  • Memenuhi kebutuhan dan kepentingan diri demi kesejahteraan hidupnya. 


B. Ayat-Ayat Tentang Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Individu
1. QS. At-Tin : 4-6
لَقَدْ خَلَقْنَا اللإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ ~ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِيْنَ~ إِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُواوَعَمِلُواالصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌغَيْرُمَمْنُوْنٍ~  
“sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebik-baiknya,~ kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya ~ kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya”.
Asbabun Nuzul
Adapun Asbabul nuzul Qura'n Surah. At-Tin [95] yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Al-Aufi dengan bersumber dari Ibnu Abbas. Bahwa Surah at-Tin turun berkaitan dengan pertanyaan para sahabat tentang balasan amal orang yang sudah pikun. Melalui surah at-Tin, Allah Swt. menegaskan bahwa amal orang yang beriman dan beramal saleh akan senantiasa mengalir pahalanya  sebelum pikun, akan mendapat pahala yang tiada putus-putusnya.(sampai orang tersebut mengalami pikun.).
At-Tin adalah surah ke-95. dalam Juz 30 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah.[surah yang turun di makkah] Surah ini diturunkan setelah surah Al-Buruj. Adapun nama surah At-Tin diambil dari kata At-Tin yang terdapat pada ayat pertama surah tersebut artinya buah Tin.

Tafsir:
4.) “Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Manusia bukanlah makhluk yang tercipta dengan sendirinya sebagaimana yang dikemukakan materialisme, tetapi manusia adalah makluk yang diciptakan oleh Tuhan (Allah). Di ayat ini Tuhan menggunakan kata kami, menunjukkan adanya keterlibatan pihak selain Tuhan dalam penciptaan ini, dalam hal ini yang terlibat adalah ibu, dan bapak manusia.
Sedangkan yang dimaksud dengan bentuk yang sebaik-baiknya adalah bahwa manusia diciptakan Tuhan dibekali keistimewaan yang tidak dimiliki makhluk lain berupa kesempurnaan yang melebihi makhluk lainya. Dalam pemahaman kesempurnaan disini meliputi kesempurnaan fisik ideal tegak lurus seperti yang kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari, tangan yang memudahkan manusia mengambil sesuatu dengan mudah, dan kesempurnaan jiwa, dan akal yang digunakan untuk mengontrol segala perbuatan yang baik atau buruk, atau kita bisa meringkas kesempurnaan-kesempunaan manusia tersebut dengan kata kesempurnaan fisik, dan psikis.
5.) “Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.”
Manusia diciptakan Tuhan melalui dua tahap. Tahap pertama yaitu tahap pembentukan tubuh (fisik), kedua, tahap penghembusan Ruh Ilahiyah yang bersumber langsung dari Tuhan.
Seperti diketahui, manusia diciptakan dengan menyempurnakan fisiknya terlebih dahulu melalui proses ilmiah, yaitu dimulai dengan sari pati bumi, kemudian pertemuan antara ovum, dan sperma, kemudian berdempetnya zyghot kedinding rahim, kemudian segumpal daging, dan tulang, dan setelah fisiknya disempurnakan baru ditiupkanlah Ruh kepadanya.
Fisik beraktivitas untuk mempertahankan hidup jasmani dan keturunan, sedangkan roh mengantarkan hubungan dengan penciptanya. Ruh Ilahi adalah daya tarik yang mengangkat manusia ke tingkat kesempurnaan. Manusia mencapai tingkat setinggi-tingginya apabila terjadi perpaduan antara kebutuhan jasmani dan rohani, yakni antara kebutuhan fisik dan jiwa. Tetapi, apabila ia hanya memperhatikan, dan melayani kebutuhan-kebutuhan jasmaninya saja, ia akan kembali atau dikembalikan kepada proses awalnya, sebelum Ruh Ilahi itu menyentuh fisiknya, ia kembali ke asfala safilin.
6.) “Kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”
Namun di pembahasan ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang yang beriman, dan beramal shalehlah yang tidak dijatuhkan ketempat yang serendah-rendahnya tadi, karena ia mempertahankan kehadiran iman dalam kalbunya, dan beramal shaleh dalam kehidupan sehari-hari.

2. QS. An-Nahl : 78
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَتَعْلَمُونَ شَيْئًاوَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَوَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ              
“ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.”
Tafsir:
Menurut Tafsir Al-Maraghi mengandung penjelasan bahwa setelah Allah melahirkan kamu (manusia) dari perut ibumu, maka Dia menjadikan kamu dapat mengetahui segala sesuatu yang sebelumnya tidak kamu ketahui. Dia telah memberikan kepadamu beberapa macam anugerah berikut ini :
a.       Akal; sebagai alat untuk memahami sesuatu, terutama dengan akal itu kamu dapat membedakan antara yang baik dan yang jelek, antara yang lurus dengan yang sesat, antara yang benar dan yang salah.
b.      Pendengaran; sebagai alat untuk mendengarkan suara, terutama dengan pendengaran itu kamu dapat memahami percakapan diantara kamu.
c.       Penglihatan; sebagai alat untuk melihat segala sesuatu, terutama dengan penglihatan itu kamu dapat saling mengenal diantara kamu.
d.      Perangkat hidup yang lain; sehingga kamu dapat mengetahui jalan untuk mencari rizki dan materi lainnya yang kamu butuhkan, bahkan kamu dapat pula memilih mana yang terbaik bagi kamu dan meninggalkan mana yang tidak baik.
Semua yang dianugerahkan oleh Allah kepadamu tiada maksud lain kecuali supaya kamu bersyukur, artinya kamu gunakan semua anugerah Allah tersebut diatas semata-mata untuk mencapai tujuan hidup yang sebenarnya yaitu :
a.       Mengeksploitasi sebanyak-banyak karunia Allah yang tersebar di seluruh belahan bumi-Nya demi kemaslahatan umat manusia.
b.      Dan meraih keridlaan-Nya sehingga hidup menjadi lebih bermartabat.
Begitulah yang harus dilakukan manusia sesuai tugas hidupnya sebagai hamba Allah dan khalifahnya di muka bumi.

3. QS. Al-Isra : 70
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْ آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَ رَزَقْنَاهُمْ مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَ فَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا  
“ dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam,dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan  Kami lebihkan mereka diatas banyak makhluk yang kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”.
Tafsir:
Allah memberitahukan tentang pemuliaan dan penghormatan-Nya terhadap anak-cucu Adam, yakni dalam penciptaan mereka dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan paling sempurna. Yaitu sesosok makhluk yang dapat berjalan tegak dengan kedua kakinya dan makan dengan kedua tangannya. Sedangkan makhluk lain dari berbagai macam binatang berjalan dengan keempat kakinya dan makan dengan mulutnya. Selain itu, Allah juga memberikan pendengaran, penglihatan, dan hati yang dengannya ia dapat memahami, mengambil manfaat, dan membedakan banyak hal, mengetahui manfaat dan keistimewaan serta bahayanya dalam urusan agama dan juga duniawi. Dan Kami angkut mereka di daratan dengan menggunakan kendaraan binatang: kuda dan keledai. Sedangkan di lautan, Kami angkut dengan menggunakan kapal-kapal besar maupun kecil. Dan Kami karuniakan kepada mereka berbagai macam rizki yang baik-baik berupa tanaman-tanaman, buah-buahan, daging, susu, dan beraneka macam makanan beraneka warna yang sangat lezat, juga pemandangan yang indah, pakaian yang bagus-bagus dengan berbagai macam jenis, warna, dan bentuknya, yang mereka buat untuk diri mereka sendiri atau mereka ambil dari daerah lain. Dan telah Kami lebihkan mereka atas makhluk lainnya, yakni hewan dan makhluk lainnya.

4. QS. Al-Baqarah : 30
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُواأَتَجْعَلُ فِيْهَامَنْ يُفْسِدُفِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَالاَ تَعْلَمُونَ
“ Dan(ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereak berkata, “ Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “ sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahhui.”
Tafsir:
Allah mengabarkan kepada Malaikat tentang rencananya menciptakan makhluk yang dinamakan manusia menjadi khalifah di bumi.
·         Para malaikat ingin mengetahui secara pasti dengan mengajukan pertanyaan “Apakah Allah akan menciptakan makhluk di bumi yang akan berbuat kerusakan dan pertumpahan darah?” Padahal mereka (malaikat) merupakan makhluk yang senantiasa bertasbih, menyucikan Allah, menaati perintah-Nya dan tidak mendurhakai-Nya.
·         Ketidaktahuan para malaikat dan kekhawatirannya setelah mendapatkan penjelasan dari Allah, bahwa Allah lebih mengetahui dari apa yang telah diketahui para malaikat.
Ayat ini menjelaskan kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi yaitu menusia diberi tugas untuk memelihara dan melestarikan alam, menggali, mengelola, dan mengolah kekayaan alam untuk dimanfaatkan demi kesejahteraan segenap manusia dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.
Untuk mewujudkan tugas yang mulia tersebut, manusia selama hidup di dunia diwajibkan meningkatkan kemampuannya baik fisik maupun rohaninya ke arah yang lebih maju baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun teknologi. Dalam menjalankan tugas hidupnya manusia diharuskan menjauhi  sifat-sifat yang buruk yang menjadi penyebab kerusakan tata hubungan antara manusia seperti pertumpahan darah maupun kerusakan alam. Oleh karena itu, senantiasa manusia dianjurkan selalu ingat kepada Allah dengan berdzikir, bertasbih, dan selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hadits-Hadits yang Berkaitan dengan Bimbingan dan Konseling

Pengembangan Kepribadian Islam